Senin, 29 Maret 2010

Orientalisme: Pengertian, Perkembangan dan Polemik (6b)

Oleh:kelompok 1

Pendahuluan
Demam orientalisme mulai merebak sejak Edward Said menerbitkan bukunya tentang Orientalisme (1978). Semula mereka mengganggap kegiatan Barat yang bersembunyi di balik aktivitas akademik ini hanya sebatas cultural studies. Kesadaran bangsa Timur akan dominasi Barat mulai muncul. Aktivitas yang semula akademik ini dalam perkembangannya ternyata dicemari oleh kepentingan- kepentingan politik dan kekuasaan.
Buku orientalisme memberi pemahaman tentang usaha Barat yang menuliskan Timur dan Barat dengan cara yang berbeda. Yang “Timur” adalah sesuatu hakekat yang harus diteliti, dipahami, diungkapkan bahkan dibentuk oleh yang “Barat’. Timur adalah misteri dan kebarbaran yang harus dibuat beradab, dengan cara menjadi Barat. Barat adalah sumber kebenaran dan kedamaian. Di dalam kebenaran berhak untuk diikuti semua manusia. Mereka harus tunduk dan patuh tanpa reserve. Buku ini menyadarkan kita untuk cermat dan waspada terhadap berita, analisis maupun deskripsi ilmiah, fiksi maupun film tentang Timur dari pandangan “orang luar”. Kacamata itu memberikan kepada kita cara pandang untuk awas bahwa dalam banyak hal “berita Barat” tentang “Timur” mempunyai kecenderungan untuk menjadikan “Timur” sebagai yang dilainkan atau dihilangkan suaranya.
Pengertian Orientalisme
Longman Dictionary of english Language: “Orientalisme berasal dari kata orient yang berarti timur sebagai lawan kata occident yang berarti barat . Kata orient ini berubah menjadi istilah Orientalisme di dunia Eropa sebagai studi kajian tentang dunia Timur. Menurut Al Berry salah satu anggota gereja Yunani bahwa istilah orientalisme ini muncul pada tahun 1638 M. Kemudian pada tahun 1691 Antony Wood dan Samuel Clarke mengistilahkan orientalisme sebagai pengetahuan tentang ketimuran. Kemudian istilah ini mencul di Prancis Orienter pada tahun 1799, diikuti inggris menjadi Orientalism pada tahun 1838 Sehingga istilah orientalisme ini menjadi istilah yang mapan dan berkembang di Di dunia Barat-Eropa pada abad ke-18 M.
Secara terminology, orientalisme adalah suatu istilah yang artinya mengetahui segala yang berhubungan dengan bangsa Timur. Kata orientalisme ini digunakan bagi setiap cendikawan Barat yang bekerja untuk mempelajari masalah keTimuran, baik di bidang bahasa, etika, peradaban, dan agamanya. Ilmuwan yang khusus mengkaji dunia Timur dalam istilah Barat disebut Orientalis.
Dalam definisi Edward Said tentang orientalisme memiliki beberapa fase definisi yang berbeda beda sesuai dengan perkembangan gerakan orientalisme itu sendiri.
1. Pada fase pertama orintalisme, Edward mendefinisikannya sebagai, "Suatu cara untuk memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa.
2. Pada fase kedua Edward mendifinisikan oreintalisme sebagai "Suatu gaya berfikir yang berdasar pada perbedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara 'Timur' (the Orient) dan 'Barat' (the Occident)”.
3. Pada fase ketiga menurut Edward, oreintalisme adalah “suatu yang didefinisikan lebih historis dan material dari kedua arti yang telah di terangkan sebelumnya”.
4. Orientalisme adalah “pengetahuan mengenai dunia Timur yang menempatkan segala sesuatu yang besifat Timur dalam mata pelajaran sekolah, mahkamah, penjara, atau buku-buku pegangan untuk tujuan penelitian, pengkajian, pengadilan, pendisiplinan, atau pemerintahan atasnya”.
Kalau dalam definisi yang dilakuakan oleh Edward W. Said Oriental masih dalam makna dunia Timur secara global, baik itu Timur jauh (the Far Orient) yang meliputi wilayah China, India, Jepang, Korea dan wilayah Asia Tengggara maupun wilayah Timur dekat (The near Orient) yang meliputi wilayah Irak, Iran, Syiria, Lebanon, Arab Saudi, atau yang mencakup seluruh wilayah Arab, belum di pertegas dengan dunia Timur (Islam). Maka Dr. Musthafa al Damiry memperjelas bahwa kajian orientalisme yang dimaksud adalah oriental Islam (dunia Timur Islam). Dalam bukunya beliau menulis, "Pemahaman dan definisi orientalisme itu adalah, kegiatan yang berlabelkan akademis yang dilakukan oleh orang-orang Barat kafir tentang Islam dan Umatnya dari seluruh aspek, baik yang berhubungan dengan akidah, syariah, budaya, peradaban, sejarah, undang-undang, dengan tujuan ingin mengaburkan (tasywih) makna-makna Islam yang benar, membuat keraguan serta menyesatkan Umat Islam."
Dari definisi-definisi di atas dapat kita fahami bahwa orientalisme dari maknanya yang sangat global kepada makna yang khusus, lalu mengkerucut menuju pemahaman Barat terhadap dunia Islam. Sehingga tidak heran pada perkembangan gerakan orientalisme selanjutnya terfokus pada acuan mendeskreditkan, menghina, menuduh Islam sebagai fundamentalis, teroris dsb, dengan memakai kedok akademis dan ilmiah. Bahkan menggunakan pemaksaan dan kekerasan dengan tujuan ingin menghancurkan sendi-sendi Islam agar peradaban Barat tetap eksis.
Perkembangan Orientalisme
Fase pertama, dimulai pada abad abad ke-16 M. Pada fase ini orientalisme dapat dikatakan simbol gerakan anti-Islam yang dimotori oleh Yahudi dan Kristen, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa akar gerakan ini jika di telususri merupkan reaksi substansi ajaran Islam yang sejak dini sekali telah menetang Kristen dan Yahudi, Al-Quran jelas sekali membeberkan kerancuan akidah dan pemikiran mereka. Selain itu kekalahan bangsa Eropa-Kristen dalam perang salib juga memicu semangat anti-Islam ini. Islam dalam pandangan orang Kristen merupakan simbol teror, perusak dan barbarian. Balfour dan Cromer secara khas mengemukakan beberapa istilah seperti orang Timur Irrasional, bejad Moral, kekanak-kanakan, "berbeda" jadi orang Eropa adalah Rasional, berbudi luhur, dewasa dan Normal. Bagi orang Eropa, Islam adalah trauma yang tak pernah berakhir. Southern dalam bukunya menulis bahwa "Orang Kristen berharap agar Timur dan Barat-Eropa bersepakat bahwa Islam itu adalah Kristen yang sesat (Misguided version Of Christianty) . Bahkan tidak sedikit yang menulis Muhammad adalah penyebar wahyu palsu, tokoh penipu, tidak jujur, pelaku sodomi, dan sebagainya, yang kesemuanya itu diambil dari doktrin keagamaan yang dibawanya.
Fase kedua, orientalisme pada abad ke-17 dan ke-18 M. fase kedua ini adalah fase penting orientalisme, sebab ia merupakan gerakan yang bersamaan dengan modernisasi Barat. Barat berkepentingan menimba ilmu bagaimana Islam bisa menjadi peradaban yang handal selama 7 abad. Pada periode inilah Raja-Raja dan Ratu-Ratu di Eropa sepakat untuk mendukung pengumpulan segala macam informasi tentang ketimuran. Untuk menyebut beberapa nama seperti, Erpernius (1584-1624) menerbitkan pertama kali tata bahasa Arab, yang diikuti muridnya Jacob Goluis (1595-1667) dan oleh Lorriunuer Franz Meurnski dari Australia tahun 1680, selain itu Bedwell W (1561-1632) mengedit tujuh jilid Kamus Bahasa Arab dan menulis tentang sejarah Nabi Muhammad.
Meskipun Barat memerlukan Islam, tapi perseteruan tetap membara. Oleh karena itu selain mengumpulkan informasi tentang Timur, mereka juga menyebarkan informasi negatif tentang Timur kepada Masyarakat Barat. Pada periode ini Alexander Ross misalnya, menerbitkan buku-buku yang banyak menghujat Islam tanpa memilikidasar apa-apa. Ia menulis buku berjudul the prophet of turk and author of the al-Qoran. Dalam buku-bukunya ia sering kali mengunakan kata-kata kasar seperti the great arabian imposter, the litle horn in the danial, arabia swine, goliat, grand, hypocrite, great thief terhadap Al-Quran. Ia juga menuduh Nabi Muhammad seperti, corrupted pudlleof mohammets invention, mis-shapen issue of muhamets brain, atau a gallimaufry of error dan sebagainya. Pada tahun 1679 Humphey Predeaux menulis sejarah hidup Nabi Muhammad, tapi buku itu berusaha membuktikan asumsi bahwa Nabi Muhammad itu pandai berpura-pua, pandai mengelabui orang, penipu dan cerdik. Buku seperti ini dijadikan referensi standar oleh orientalis selama seabad lebih. Singkat kata, jika pada fase pertama diwarnai oleh semangat anti Islam, maka priode ini adalah priode caci maki orientalis terhadap Islam dalam bentuk tulisan.
Fase ketiga oreantalisme adalah abad ke-19 dan seperempat pertama abad ke 20. Fase ini adalah fase terpenting bagi orentalisme dan umat Islam sendiri. Sebab pada fase ini Barat telah benar-benar menguasai negara-negara Islam secara politik, militer, kultural dan ekonomi. Pada fase ini banyak orientalis yang menyumbangkan karyanya dalam banyak bidang studi Islam. Tidak sedikit pula dari karya-karya berbahasa arab dan persia diedit, diterjemahkan dan diterbitkan. Mungkin karena orang Barat telah masuk dan menguasai negri-negri Islam sehingga dengan mudah mereka mendapatkan bahan-bahan tentang Islam. Oleh sebab itu pada waktu yang hampir berasamaan lembaga-lembaga studi keislaman dan ketimuran didirikan dimana-mana. Tahun 1822 diparis didrikan Society Asiatic of Paris, Royal Asiatic of Great Bretain dan Ireland didirikan tahun 1823 di inggris. Tahun 1842 di Amerika juga didirikan American Oriental Socaity. Tahun 1916 di Universitas London didirkan School of Oriental Studies sekarang jadi SOAS (School of Orintal and African Studies). Diantara tokoh orientalis yang terkenal pada masa ini adalah Goldziher(1850-1908). Dengan berdirinya pusat-pusat studi keislaman tersebut, framework kajian orientalis mengalami pergeseran yang signifikan dari fase caci maki menjadi serangan sistematis dan ilmiah. Namun demikian serangan sistematis dan ilmiah itu tidak berarti tanpa kesalahan dan bias. para oreantalis di abad pertengahan memang memiliki informasi yang kurang valid tentang nabi muhammad, sehingga tulisan mereka bernada negatif. Namun para orientalis di zaman modern yang dianggap telah memiliki pengetahuan Islam yang relatif lebih banyak, masih saja bersikap negatif dengan cara yang lebih akademis. Yang jelas mereka tidak mengekspos misi yang dibawa Nabi, dan menjelaskan nilai-nilai universal Islam yang disumbangkan kepada dunia.
Fase keempat orientalisme ditandai dengan perang dunia ke II. Khusus di Amerika, Islam dan umat Islam menjadi obyek kajian populer. Kajian itu bukan saja dilalakukan untuk kepentingan akademis, tetapi juga untuk kepentingan perancang kebijakan politik dan bisnis. Namun pada fase ini kajian orientalis berubah dari sentimen keagamaan yang vulgar menjadi lebih lembut. Cantwell Smith terang terangan mengatakan "Pencarian ilmu selalu siap mengubah hipotesanya . Faktanya memang orang-orang Barat non muslim baru saja memperlembut sikapnya terhadap Islam dan bahakan menarik kata tidaknya" (lihat on understanding Islam-selected studies,the hague, 1981, 296). Sir Hamilton Gibb secara diplomatis mengatakan, ia menerima pendapat bahwa wahyu adalah gambaran pengalaman pribadi Nabi Muhammad, tapi Islam perlu menafsirkan ulang konsep yang tidak bisa dipertahankan lagi itu. (Pre-Islam monotheism in arabia, harvard thelogical review, 55, 1962, 269). Perubahan sikapnya begitu kentara berubah dari menuduh nabi sebagai penipu, mereka kemudian mempersoalkan konsep wahyunya, dan kini mereka mulai mempersoalkan interpretasinya. Methode serta framework yang dipakai Barat dalam mengakaji dunia Islam senantiasa berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi perkembangan zaman, perbedaan tempat dan waktu, serta daya berfikir rasional manusia. Label akademis, Ilmiah dan obyektifitas merupakan senjata utama dalam memutarbalikan fakta sehingga terkesan obyektif dan ilmiah. Padahal dalam obyektifitasnya itu tersimpan banyak pertanyaan-pertanyaan yang justru tidak menunjukkan sikap ilmiah dan obyektif. Hal itu terlihat mislanya dalam kajian mereka tengatang Al-Quran yang menggunakan metode kritik Bible (Bible Criticsm). Mereka mengklaim penggunaan metodologi kritik Bible sebagai metode Ilmiah.
Dalam kajian teologi Islam kalangan orientalis menggunakan tiga pendekatan dan metode pertama, filologi, yang meliputi penelitian nilai naskah (textual criticms), penelitian bentuk karya Tulis (Form criticisn), dan penelitian terhadap sumber karya (source criticism). Kedua, menggunakan metode kritik sejarah (Historical Criticism). Pendekatan ini bertujuan memilih berita, cerita atau laporan mana yang benar dan mana yang palsu, membedakan antara sejarah dan legenda, antara fiksi dan fakta, antara mitos dan realitas, memilah “antara konon terjadi” dan “yang sebenarnya terjadi”, berkenaan dengan riwayat hidup atau karir seorang tokoh atau mengenai karya yang disandarkan kepadanya. Ketiga, melalui pendekatan filsafat, lebih menekankan pada aspek kesinambungan pendekatan tentang berbagai tema dalam konteks sejarah pemikiran manusia (history of ideas). Yang diperhatikan dalam pendekatan ini ialah isi dan sistem pemikiran seorang tokoh serta sumbangannya dalam bidang yang digelutinya. Seperti pandangan teologi manusia Barat sebelum abad modern masih dalam tahap animisme dan pandangan Aristotel, teologi metafisika. Kemudian pada abad modern membuka jalan bagi filsafat sekularis dan mekanika. Membuktikan eksistensi Tuhan dengan berdasarkan pada ide tantang wujud sempurna dalam pikirannya. Descartes, Kepler, Galileo, Boyle, dan para filosof mekanika lainnya membedakan antara kualitas primer dan kualitas sekunder untuk mencopot animisme dari Alam. Yang pada gilirannya menjadikan teologi hanya hal yang skunder, atau hanya sebuah perasaan atau sesuatu yang muncul dari pikiran manusia (Human mind). Seprti halnya, warna, kekerasan, rangangan dan rasa pahit. Dengan berkembangnya pemikiran teology modern ini, orang Barat sampai kepada tahap pertanyaan, “apakah Tuhan itu ada atau tidak?” Perkembangan sains modren ini mempengaruhi wilayah teology dan agama, dan pada saat itulah pandangan hidup orang Barat berubah secara fundamental, yang disebut sebagai akal modoren (modern mind). Pada abad post-modernisme pandangan teologi Barat berubah menjadi apa yang disebut dengan teologi post-modernisme. Pada abad ini munculnya eksistensialisme (pemehaman tentang kewujudan) dan filsafat analitik yang merupakan dua gerakan yang sangat dominan. Dan pemahaman ini hasil dari pikiran Pos-Modernisme (post-Modern mind). Munculnya pemahaman post-modernisme ini bukan saja menghapuskan realitas serta metafisika yang objektif dengan sistem baru, tapi juga meremehkan serta mengsampingkan doktrin agama yang berdasarkan pada metafisika. Dimana agama pada abad post-modernisme didekati dengan pemikiran yang bersifat ateistik, (tidak adanya sebuah agama) atau sebuah penggugatan terhadap agama, pandangan ini tercermin dari pandangan mereka tentang nilai (value). Dimana sebuah nilai menurut mereka adalah suatu yang absolut, artinya, nilai adalah suatu yang harus diikuti oleh agama dan masyarakat. Agama tidak lagi dijadikan sebagai satandar nilai dalam kehidupan manusia. Karena itu dalam pandangan Nietzsche proses nihilisme (tidak adanya sebuah nilai) adalah devaluasi nilai tertinggi yang membawa kepada kesimpulan doktrin “Kematian Tuhan”. Artinya standar nilai untuk menilai sesuatu tidak lagi berdasarkan kepada sesuatu yang metafisis, realistis, relijus ataupun yang mengandung ketuhanan.
Kemudian pada era globalisasi pandangan Barat tentang ketuhanan bergeser kepada paham globalisme agama, yang di pelopori oleh Jhon Hick. Dimana manusia ahrus mengubah (revise) atau merombak (deconstruct) pemikiran-pemikian dan keyakinan-keyakinan agama tradisional agar seirama denga semangat Zaman, dan nilai-nilai yang diyakini “universal”.... Teori baru yang sangat krusial dewasa ini dikenal dengan “Pluralisme Agama”. Dalam kajian mereka tentang Hadist, orientalis Barat memulainya dengan meragukan kejujuran (tsiqoh) para sahabat, kemudian Isnad, Rawi dan matan dari Hadist tersebut. Sehingga dengan gaya kritik yang dipakainya memungkinkan mereka meregukan kesohihan hadis-hadis Bukhari dan Muslim. Inilah gaya orientalis Barat dalam mengakji Islam yang sebagian intelektual Muslim kadang tidak menyadari hal itu sehingga tidak sedikit di antara mereka yang amat apreseatif terhadap kajian Islam para orientalis ini, dan kemudian mengadopsinya untuk kajian Islam. Malah akhir-akhir ini, kritik-kritik para orientalis yang tendensius dan bias itu disuguhkan kepada umat Islam, dengan maksud agar umat Islam berfikir kritis. Tapi anehnya, justru para cendikiawan itu sendiri tidak kritis terhadap kritik para orientalis. Tidak sedikit yang Mengamini dan bertaqlid buta terhadap kritikan orientalis dan berbalik mengkritik Islam dengan menggunakan bahasa dan metode orientalis. Padahal sikap ilmiah orientalis yang konon obyektif itu menyisakan banyak pertanyaan-pertanyaan dan menyuguhkan pendekatan yang penuh bias. Kajian edward Said yag tidak kalah ilmiahnya menggabarkan dan menyimpulakan bahwa "Apa saja yang dikatakan oleh orang-orang Eropa tentang Timur tetap saja Rasial, Imperialis dan Etnocentris. Sebab dalam karya-karya Barat tentang Timur, Barat Memandang Timur dengan rasa superioritas yang tinggi.
Polemik Orientalisme
Sejarah orientalisme pada masa-masa pertama adalah pertarungan antara dunia barat nasrani abad pertengahan dengan dunia timur Islam, baik dalam keagamaan maupun ideologi. Islam menurut R. W. Southern merupakan problema masa depan dunia barat Nasrani secra keseluruhan di Eropa . Gerakan orientalisme tumbuh pesat di dunia barat, pasca perang salib. Orientalisme adalah satu bentuk invasi intelektual yang bermuara dar sebab-sebab keagamaan. Dunia barat yang terdiri dari Ahlul bait (Nasrani dan Yahudi), setelah masa reformasi keagamaan, membutuhkan pandangan ulang terhadap ajaran dan kitab-kitab keagamaan mereka. Untuk itu mereka mulai mengadakan studi tentang bahasa arab dan Islam. Mereka memanfaatkan apa saja dari karya-karya muslim.dari kajian tentang Islam, orientalisme kemudian berkembang menjadi kajian-kajian tentang kondisi ekonomi, politik, dll, dengan tetap berpegang pada prinsip utama dan sebagai prolog kristenisasi dengan tujaun-tujaunnya. Pada umumnya usaha mereka untuk merapuhkan nilai-nilai Islam, mengingkari kenyataan sejarah, kebudayaan dan etika Islam. Kesemuannya mereka selubungi dengan “ penelitian ilmiah” dan terhindar dari “sikap fanatik”, namun kenyataannya, penelitian-penelitian yang dilakukan jauh dari unsur-unsur kejujuran dan ilmiah. Dimanakah letak ilmiah dan kebenaran dari hasil kajian mereka yang menyimpulkan hal-hal berikut:
1. Al-Quran adalah kitab Nasrani yang disalin oleh Muhammad SAW.
2. Islam adalah agama yang hanya mementingkan materi, bukan sebagai agama rohani, karena Islam hanya menyeru kepada hidup keduniawian bukan menyeru kepada kejernihan jiwa dan rasa cinta.
3. Islam condong kepada permusuhan dan pengrusakan. Pemeluk Islam bersikap kasar terhadap orang selain Islam.
4. Bahasa Arab Fushah sekarang ini sudah tidak relevan lagi, oleh karena itu harus diganti dengan bahasa arab pasaran.
Setelah kita membahas panjang lebar tentang orientalisme, cukup sudah tergambar dalam pikiran kita betapa sesungguhnya kaum orientalis telah begitu jauh menelusuri dan mengkaji serta meneliti terjadap Islam, al-Qur’an dan bahkan pribadi Nabi Muhammad SAW. mereka telah memusatkan aktifitasnya pada pembahasan tentang kita kaum muslimin. Bahkan dalam beberapa hal usaha mereka telah melampaui usaha kita dalam mengkaji masalah-masalah Islam. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam harus bersatu padu dalam memerangi serangan kaum orientalis, menjaga keimanan dan menambah wawasan tentang keislaman.

1 komentar:

  1. ORIENTALIS: PEWAHYUAN
    Belum lama ini akidah umat Islam diserang lagi. Kali ini sasarannya, lagi-lagi kitab suci Al-Qur'an.Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, orang Yahudi dan Kristen memang tak akan pernah berhenti, dengan segala macam cara, mempengaruhi umat Islam agar mengikuti langkah mereka. Mereka ingin umat Islam melakukan apa yang mereka lakukan; menggugat, mempersoalkan ataupun mengutak-atik yang sudah jelas dan mapan, sehingga timbul keraguan terhadap yang sah dan benar.Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggeris, mengumumkan bahwa :"Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur'an sebagaimana yang telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani, Seruan semacam ini dilatar-belakangi oleh kekecewaan orang Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka dan disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci Al-Qur'an. Perlu diketahui bahwa mayoritas cendikiawan Kristen sudah lama meragukan autentisitas Bibel. Mereka terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa Bibel yang ada di tangan mereka sekarang ini terbukti bukan asli alias 'aspal'. Terlalu banyak campur-tangan manusia di dalamnya, sehingga sulit untuk membedakan mana yang benar-benar wahyu dan mana yang bukan.Kemudian datang Theodor Noeldeke yang berusaha merekonstruksikan sejarah Al-Qur'an dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh Taufik Adnan Amal, juga dari Jaringan Islam Liberal. Lalu pada tahun 1937 muncul Arthur Jeffery yang ingin merekonstruksi al-Mushaf al-Uthmani dan membuat mushaf baru.Maka yang digembar-gemborkan adalah isu naasikh-mansuukh, soal adanya surat tambahan versi Shi'ah, isu 'Ghanaariq' dan lain sebagainya. Ada pula yang apriori mau merombak susunan ayat dan surah Al-Qur'an secara kronologis, mau 'mengkoreksi' bahasa Al-Qur'an ataupun ingin mengubah redaksi ayat-ayat tertentu. Kajian Orientalis terhadap Al-Qur'an tidak sebatas mempersoalkan autentisitasnya.Sikap anti Islam tersebut tersimpul dalam pernyataan 'miring' seorang Orientalis Inggeris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reynold A. Nicholson:"Muhammad picked up all his knowledge of this kind by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings-largely consisiting of legends from the Haggada and Apocrypha". Namun ibarat buih, segala usaha mereka muncul dan hilang begitu saja, tanpa pernah berhasil mengubah keyakinan dan penghormatan mayoritas umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur'an, apalagi sampai membuat mereka murtad.Pada awal pembahasan buku ini kita pernah membahas adanya kesinambungan wahyu sejak Nabi-nabi terdahulu hingga yang terakhir. Proses pewahyuan al-Qur'an seperti di atas adalah salah satu tingkatan pewahyuan. Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, bukan diturunkan satu kitab secara langsung. Prosesnya pun berbeda-beda dari tingkat yang terendah hingga yang tertinggi yaitu pertemuan dengan Pencipta, seperti yang dialami Nabi Muhammad ketika Isra' mi'raj dan mendapat perintah shalat, juga Nabi Musa yang disebut al-Qur'an sebagai Nabi yang kepadanya Allah berbicara.
    Proses pewahyuan yang secara bertahap inilah yang dipahami salah oleh Dr. Robert Morey dan dijadikan alasan bahwa ada kontradiksi dalam masalah pewahyuan.14 Sebab umat Kristen secara umum tidak memiliki pandangan yang tepat masalah pewahyuan. Seperti pewahyuan Nabi Musa misalnya Selalu digambarkan satu buku turun dari langit, apalagi pewahyuan Nabi Isa As. jelas sulit mereka jelaskan karena Nabi Isa sendiri mereka lantik menjadi 'tuhan', karena itu mereka Sering menggunakan bahasa kiasan burung merpati yang mungkin sering kita lihat di gambar-gambar Yesus. Kalangan Kristen yang mengerti tentu saja enggan menjelaskan burung merpati tersebut, tapi yang tidak tahu ditelan mentah-mentah karena disajikan dengan gambar yang indah.

    BalasHapus